Tantangan Bonus Demografi dan Derajat Kesehatan di Kabupaten Purworejo

 Tantangan Bonus Demografi dan Derajat Kesehatan di Kabupaten Purworejo

Berbicara bonus demografi tentunya bukanlah hal yang asing bagi kita. Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri memproyeksikan bonus demografi Indonesia akan terus meningkat dan mencapai puncaknya pada tahun 2025. Bonus demografi adalah keadaan saat jumlah penduduk produktif atau angkatan kerja berusia 15-64 tahun lebih besar dibandingkan usia nonproduktif, 0-14 tahun dan di atas 64 tahun.


Bonus demografi sendiri dapat kita lihat dari piramida penduduk. Piramida penduduk adalah grafik yang menyajikan data penduduk berdasarkan umur, jenis kelamin dan daerah suatu penduduk. Pada tahun 2022, data menunjukkan bahwa Kabupaten Purworejo sedang mengalami bonus demografi, yang berarti jumlah penduduk usia produktif lebih dominan. Lebih dari 173.000 jiwa berada pada rentang usia 15-29 tahun. Informasi ini dapat dilihat lebih jelas dalam gambar yang disajikan di bawah ini.

Gambar 1. Piramida Penduduk Kabupaten Purworejo Tahun 2022 

(Sumber: BPS Kabupaten Purworejo, 2023)


Berdasarkan gambar piramida penduduk di atas dapat kita ketahui bahwa jumlah penduduk antar jenis kelamin relatif sama, jumlah penduduk terendah pada kelompok umur 70-74 tahun, jumlah penduduk laki-laki tertinggi pada kelompok umur 20-24 tahun yaitu 30.067 jiwa, sedangkan jumlah penduduk perempuan tertinggi terdapat pada kelompok umur 50-54 tahun sebanyak 28.344 jiwa.


Rasio ketergantungan adalah suatu ukuran yang menggambarkan seberapa besar beban yang harus dipikul oleh penduduk usia produktif. Semakin tinggi rasio ketergantungan, semakin besar beban yang harus ditanggung oleh penduduk usia produktif untuk mendukung finansial dan kebutuhan hidup penduduk yang belum produktif dan tidak lagi produktif secara ekonomi.


Tabel 1. Rasio Ketergantungan Kabupaten Purworejo Tahun 2018 – 2022

    Sumber: BPS Kabupaten Purworejo, 2023, diolah


Perkembangan rasio ketergantungan di Kabupaten Purworejo dari tahun 2018 hingga 2022 dapat diamati pada tabel di atas. Berdasarkan data Kabupaten Purworejo Dalam Angka tahun 2023, pada tahun 2022 Kabupaten Purworejo Kabupaten Purworejo memiliki proporsi penduduk usia produktif (15-64 tahun) sebesar 68,61%, setara dengan 533.956 jiwa. Rasio beban ketergantungan pada tahun 2022 mencapai 45,75%, yang berarti setiap 100 penduduk usia produktif rata-rata harus menanggung 45-46 penduduk usia yang tidak produktif (usia 0-14 dan 65 ke atas). Hal ini menunjukkan bahwa Kabupaten Purworejo sedang mengalami bonus demografi, di mana jumlah penduduk produktif lebih banyak dibandingkan dengan penduduk yang tidak produktif.


Struktur penduduk juga bisa dilihat dari proporsi penduduk menurut agama yang dianut. Mayoritas penduduk di Kabupaten Purworejo memeluk agama Islam (98,07%). Selain itu, ada sebagian kecil yang menganut agama Protestan (0,99%), Katolik (0,87%), Hindu (0,01%), Buddha (0,06%), dan agama lainnya (0,01%). Data tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.


Tabel 2. Jumlah Penduduk Menurut Agama yang Dianut Per Kecamatan di Kabupaten Purworejo Tahun 2022 

Sumber: BPS Kabupaten Purworejo, 2023


Berkaitan dengan kesehatan, ada beberapa tantangan bonus demografi yang harus dihadapi dan ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kabupaten Purworejo, seperti gizi buruk dan stunting, penyakit tidak menular, penyakit menular, dan kasus indogeneous malaria. 


Prevalensi Gizi Buruk dan Balita Pendek (Stunting)

Gambar 2. Diagram Garis Prevalensi Balita Pendek (stunting) Kabupaten Purworejo Tahun 2018-2022 

(Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, 2023, diolah)

            Berdasarkan grafik di atas dapat kita lihat bahwa prevalensi gizi buruk terus mengalami angka yang fluktuatif dari tahun 2018-2021. Angka teringgi terjadi pada tahun 2021 yaitu sebesar 0,12%, sedangkan angka terendah terjadi pada tahun 2018 yaitu sebesar 0,03%. Hal ini jelas harus menjadi perhatian bagi pemerintah setempat. Pemerintah seharusnya memperhatikan faktor-faktor terjadinya kenaikan pada angka prevelensi gizi ini, seperti tingginya kehamilan risiko tinggi, tingginya bayi lahir dengan resiko stunting, kurangnya kesadaran akan pentingnya pelayanan kesehatan ibu dan anak, masih rendahnya cakupan ASI eksklusif.


Untuk Prevalensi Balita Pendek (stunting) sendiri dari tahun 2018-2022 juga mengalami kenaikan yang signifikan, walau sempat mengalami penurunan pada tahun 2020 sebesar 8,99%. Sehingga perlu upaya yang lebih keras untuk menurunkan angka stunting si Kabupaten Purworejo. Penyebab stunting sendiri sebenarnya sama dengan penyebab gizi buruk yaitu karena kualitas dan kuantitas makanan balita kurang memenuhi standar, pola asuh balita masih kurang optimal, ketersediaan pangan tingkat rumah tangga kurang mencukupi karena 50 persen gizi buruk dari keluarga miskin, pemanfaatan pekarangan di tingkat rumah tangga belum optimal, pemberdayaan keluarga masih kurang serta masih adanya ibu hamil kekurangan energi kronik (KEK) yang beresiko melahirkan bayi stunting. 

Gambar 3. Diagram Garis Prevalensi Balita Pendek (stunting) Kabupaten Purworejo Tahun 2018-2022 

(Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, 2023, diolah)


Jumlah Penderita Penyakit Menular

Penyakit menular masih menadi sebuah permasalahan kesehatan yang cukup menakutkan di tengah masyarakat. Hal ini dikarenakan banyaknya angka kematian yang disebabkan karena penyakit menular. Bahkan bisa menjadi sebuah wabah atau pandemi global, seperti pandemi Virus COVID-19.


Tabel 3. Jumlah Penderita Penyakit Menular di Kabupaten Purworejo Tahun 2018-2022

(Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, 2023)


Berdasarkan data di atas dapat kita ketahui bahwa jumlah penderita penyakit menular di Kabupaten Purworejo terus mengalami fluktuatif. Penyakit diare menjadi penyakit menular dengan jumlah tertinggi di Kabupatten Purworejo. Semua penyakit di atas mengalami kenaikan pada tahun 2022 kecuali penyakit frambusia yang memang tidak ada penderitanya daru tahun 2018.


Jumlah Penderita Penyakit Tidak Menular


Tabel 4. Jumlah Penderita Penyakit Tidak Menular di Kabupaten Purworejo Tahun 2018-2022

       (Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, 2023)


Penyakit tidak menular sendiri masih menjadi penyebab angka kematian tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data di atas,  jumlah penderita penyakit tidak menular di Kabupaten Purworejo juga mengalami fluktuatif. Hipertensi menjadi jumalah penderita penyakit tidak menular tertinggi di Kabupaten Purworejo yang dilanjut oleh penyakit diabetes. ODGJ juga mengalami peningkatan dari 2018-2022, walau sempat mengalami penurunan pada tahu  2020 sebanyak 2.647 jiwa.


Kasus Indogeneous Malaria

Kasus malaria menjadi salah satu penyakit menular yang masih menjadi permasalahan di Kabupaten Purworejo. Penyakit ini berpengaruh terhadap peningkatan angka kesakitan dan kematian kelompok rentan seperti ibu hamil/melahirkan bayi dan balita.

Gambar 4. Diagram Garis Jumlah Kasus Malaria di Kabupaten Purworejo Tahun 2018-2022 

(Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, 2023, diolah)


Kabupaten Purworejo sendiri memilliki kawasan perbukitan Menoreh, yang merupakan habitat alami dari nyamuk Anopheles. Bahkan Kabupaten Purworejo pernah menjadi salah satu kabupaten/kota penyumbang kasus malaria tertinggi di Pulau Jawa. Berdasarkan grafik di atas dapat kita lihat bahwa terjadi kenaikan yang sangat signifikan dari tahun 2020 yang jumlahnya 5 kasus menjadi 535 kasus pada tahun 2021. Hal ini disebabkan karena ada kejadian KLB malaria di Desa Wadas pada tahun 2021. 


Untuk mengurangi penularan tersebut, di Kabupaten Purworejo terdapat relawan Gebrak Malaria yang tugasnya untuk melaporkan kepada Juru Malaria Desa (JMD) dan Puskesmas apabila terdapat warga yang terkena gejala malaria seperti demam, panas, dan sakit kepala. Selain itu, gerakan ini juga mendata setiap ada warga/pendatang yang berasal dari daerah yang menjadi zona terjadinya kasus malaria.


Sekian pembahasan tantangan bonus demografi khususnya pada derajat kesehatan di Kabupaten Purworejo. Yang jelas kita sebagai masyarakat perlu meningkatkan kesadaran pentingnya menjaga kesehatan dan pemerintah juga harus memperhatikan kondisi kesehatan masyarakatnya  dengan meencegah dan mengurangi jumlah kasus-kasus kesehatan yang akan terjadi di kemudian hari. Jadi intinya kita harus sama-sama bersinergi baik masyarakat maupun pemerintah Kabupaten Purworejo,


Sumber :

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/05/20/bonus-demografi-indonesia-diproyeksi-mencapai-puncak-pada-2050#:~:text=Badan%20Pusat%20Statistik%20(BPS)%20memproyeksikan,dan%20di%20atas%2064%20tahun.


https://satudata.purworejokab.go.id/files/berita/buku%20profil%20pembangunan%20daerah%20kab.%20purworejo%20tahun%202023.pdf


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Imigrasi dan Emigrasi di Provinsi Jawa Tengah

INILAH AKU