KENAPA SAYA DISINI?
Kenapa saya disini?
Mendapat pertanyaan seperti diatas sebenarnya bukanlah pertanyaan yang sulit bagiku, karena jawaban simpelnya adalah karena takdir Allah yang menyebabkan aku harus berada disini.
Sebelumnya Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, kenalin aku Ahmad Ramdani biasa dipanggil Ramdan. Asalku dari Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Aku tinggal di desa yang berada di daerah pesisir, lebih tepatnya aku adalah anak pantai. Disini aku akan sedikit menceritakan kenapa saya bisa berada di Politeknik Statistika STIS.
Berawal
dari sebelum kelulusan SMA dan ditengah kebimbangan apakah saya harus kuliah
atau tidak. Aku diberi dua pilihan oleh bapak saya yaitu antara kuliah atau
mondok pesantren. Aku sendiri waktu SMA pernah mesantren tetapi karena pandemi
dan alasan lainnya akhirnya aku disuruh berhenti oleh bapakku. Agak berat
rasanya waktu itu saya harus berpisah dengan teman-teman saya selama di
pesantren walaupun cuma sebentar tetapi sangat sulit dilupakan kenangan selama
di pesantren. Awalnya aku memutuskan untuk kuliah sambil mondok karena ada
dorongan juga dari Ibu untuk lanjut kuliah saja. Akhirnya aku mendaftar PTN
(Perguruan Tinggi Negeri) melalui jalur SNMPTN.
Waktu
itu aku mendaftar di Universitas Diponegoro jurusan Statistika sebagai pilihan
pertama dan Universitas Negeri Semarang jurusan Teknik Informatika sebagai pilihan
kedua. Alasan aku memilih keduanya adalah karena terdapat pesantren mahasiswa
di sekitar kampus tersebut. Kalau boleh jujur selama menunggu pengumuman SNMPTN
aku tidak terlalu yakin bahwa saya akan diterima. Hingga pada saat tiba waktu
pengumuman aku harus menerima kenyataan pahit itu, aku ditolak di kedua kampus
negeri terbaik tersebut.
Perasaan
kecewa mulai muncul dibenakku dimana saya harus menerima kenyataan ini dengan
lapang dada dan alhamdulillahnya orang
tua saya juga tidak terlalu menuntut saya untuk bisa diterima di kedua kampus
tersebut. Akhirnya aku tidak menyerah, aku mencoba lagi untuk mendaftar kuliah,
untuk kali ini aku memutuskan untuk mendaftar UIN lewat jalur SPAN-PTKIN. Jalur
seleksi ini mirip SNMPTN dimana sama-sama memakai nilai raport untuk menyeleksinya.
Sebenarnya dibalik itu ada motivasi lain yang membuatku harus mendaftar melalui
kedua jalur tersebut.
Kebetulan
aku punya teman akrab yang sudah kukenal sejak SMP dan pada waktu lulus SMP kami
juga ada rencana mau mesantren bareng. Berhubung waktu itu aku harus mendaftar
SMA dan dia ternyata memilih mendaftar SMK akhirnya kami tidak jadi mesantren karena
jarak sekolah kami yang sama-sama jauh dan alasan internal lainnya. Nah pas mau
lulus SMA aku kembali membuat rencana dengannya untuk mesantren sambil kuliah.
Kami sama-sama mendaftar melalui SNMPTN di Universitas Diponegoro sebagai
pilihan pertamanya. Namun kehendak Allah berkata lain, yang diterima cuma temanku
dan aku harus berjuang lebih lagi untuk masuk di perguruan tinggi.
Lanjut
ke cerita ketika aku mendaftar melalui jalur SPAN-PTKIN. Waktu itu temanku yang
kubicarakan sebelumnya juga ikut mendaftar melalui jalur ini walau posisinya
sudah diterima di UNDIP. Aku memilih jurusan Pendidikan Agama Islam sebagai
pilihan pertama dan pilihan kedua jurusan Tadris Matematika di UIN Walisongo
Semarang sebagai pilihan kampus pertama karena melalui jalur ini kita bisa
memilih maksimal dua kampus dan di setiap kampus kita bisa memilih dua jurusan.
Untuk kampus pilihan keduaku yaiutu UIN Raden Mas Said Surakarta dan untuk jurusannya
juga sama seperti yang aku pilih di UIN Walisongo. Alasan aku memilih kedua
jurusan tersebut karena aku juga punya motivasi untuk menjadi guru pada waktu
itu walau pas SMA ketika ditanya mau lanjut dimana aku menjawabnya ke STIS
walau tidak sepenuhnya yakin.
Perasaan
selama menunggu pengumuman SPAN-PTKIN kurang lebih sama seperti ketika menunggu
pengumuman SNMPTN. Perasaan ragu-ragu dan kurang yakin selalu muncul dibenakku
dan akhirnya hasil yang sama juga harus aku terima pada waktu itu, dimana aku
harus ditolak juga melalui jalur tersebut. Temanku waktu itu juga ditolak di
jalur SPAN-PTKIN ini. Setelah aku ceritakan hasilnya ke orang tua aku melihat
kekecewaan di mata Ibu saya walau saya tahu Ibu saya berusaha untuk tidak
memperlihatkan kekecewaaanya dan hal inilah yang membuat saya mau nggak mau
harus berjuang lebih keras lagi untuk bisa mendapatkan kampus. Pada waktu itu
aku disarankan ibuku untuk mendaftar kedinasan yaitu di Polstat STIS. Setelah kupikir-pikir
lagi akhirnya aku mendaftar di Polstat STIS dan berbarengan juga aku mendaftar PTN
melalui jalur SBMPTN atau UTBK.
Selain
motivasi dari orang tua aku juga juga mendapat motivasi eksternal dari seorang
ulama besar di daerahku kurang lebih dia berkata seperti ini “Sing penting
yakin kang” yang dalam Bahasa Indonesia artinya “Yang penting yakin kang”. Nah
dibalik pesan singkat itu ada makna yang dalam yang membuatku lebih semangat
lagi untuk menghadapi ujian kedepannya dimana dalam melakukan sesuatu yang
pertama kita tata adalah niat kita terlebih dahulu, kita harus yakin dan mantap
dengan apa yang akan kita lakukan. Pada pendaftaran SBMPTN aku mendaftar di
Universitas Jenderal Soedirman jurusan Teknik Geologi sebagai pilihan pertama
dan Universitas Brawijaya jurusan Teknik Geofisika. Alasan kenapa aku memilih
kedua jurusan tersebut karena aku tertarik pada kedua ilmu itu dan aku
berkeinginan bekerja di BMKG atau Pertamina ketika lulus kuliah besok. Bisa dibilang
jurusan yang kupilih di SBMPTN sangat melenceng dari jurusan yang kupilih
sebelumya di SNMPTN dan SPAN-PTKIN.
Selama
itu aku benar-benar memantapkan hati dan tekad untuk bisa diterima di SBMPTN
dan Polstat STIS. Bahkan aku sampai membuat list atau jadwal harian tentang apa
saja yang harus aku lakukan setiap
harinya benar-benar aku tata dengan rapi walau kadang-kadang ada bolongnya
juga. Adanya keterbatasan biaya untuk mengikuti les atau bimbel, maka aku
memutuskan untuk belajar otodidak dengan membeli buku persiapan UTBK dan masuk
sekolah kedinasan. Aku selalu membuat target dengan mengikuti tryout-tryout gratis
di Instagram dengan mencatat nilai setiap aku mengikuti tryout tersebut dan
hasilnya naik secara signifikan disetiap tryoutnya walau ada juga turun dikit.
Kebetulan
pada saat itu saya ujiannya di Jogja baik UTBK maupun Tes Masuk Polstat STIS,
sehingga setiap tes aku harus pulang-pergi dengan diantar oleh pamanku. Setelah
menjalani berbagai macam seleksi akhirnya doa orang tua, guru, dan orang-orang
di sekitarku menjawab ketidakpastian ini. Alhamdulillah aku diterima di Teknik
Geologi Unsoed melalui jalur SBMPTN dan beberapa minggu setelahnya aku mendapat
pengumuman bahwa aku diterima di Polstat STIS. Tangis dan keprihatinanku selama
ini seakan terbayarkan oleh hasil tes kedua jalur tersebut.
Raut
wajah bahagia memancar dari wajah Ibuku dan hal inilah yang aku nanti-nantikan
saat itu yaitu membuat orang tuaku bahagia. Aku sangat bersyukur atas semua
ini, melihat jerit payah orang tua dan orang-orang terdekatku khususnya pamanku
yang selalu mendukungku selama menghadapi berbagai macam tes ini membuatku
terharu mengingat biaya selama tes ini yang tidak sedikit. Alhamdulillah aku
diterima di salah satu sekolah kedinasan yang menjadi idaman banyak orang
karena kuliahnya yang gratis dan ada jaminan setelah lulus menjadi PNS. Sebenarnya
kuliah di Unsoed juga gratis karena aku juga diterima beasiswa KIP-K tetapi aku
memilih untuk kuliah di Polstat STIS walau hanya D3 saja setidaknya ada jaminan
nanti setelah lulus.
Itulah
cerita kenapa aku bisa berada di Politeknik Statistika STIS. Pesan saya untuk
pembaca, dalam melakukan suatu pekerjaan alangkah baiknya kita tata dan mantapkan
niat kita terlebih dahulu. Kita harus yakin terhadap setiap apapun yang akan kita
lakukan dan jadilah manusia yang optimis. Write it on your heart that every day is the best day in the year.
Komentar
Posting Komentar