Aku dan Jakarta
Aku dan Jakarta
Menapakkan kaki di Jakarta untuk menuntut ilmu merupakan hal yang begitu berat sekaligus membanggakan. Berat bagiku harus berpisah jauh dengan orang tua, dimana aku yang berasal dari pedesaan harus melawan kerasnya dunia perkotaan. Kehidupan di desa yang tenang dan nyaman digantikan dengan kehidupan kota yang bising dan bebas.
Bangga bagiku karena setidaknya aku bisa membuat kedua orang tuaku dan orang-orang di sekitarku bangga atas pencapaianku saat itu, yaitu bisa diterima di salah satu sekolah kedinasan yang cukup bergengsi tepatnya di Politeknik Statistika STIS. Walau bukan pertama kalinya aku pergi ke Jakarta, tetapi masih saja terasa berat bagiku untuk merantau di kota metropolitan satu ini.
Sebagai anak sulung tentunya juga menjadi hal yang lumayan berat bagi orang tuaku harus melepaskanku sejauh itu, mengingat aku yang anak rumahan dan apa-apa masih bergantung ke orang tua. Mau tidak mau aku harus bisa hidup mandiri dan memanajemen waktu sebaik mungkin. Sebenarnya aku sendiri sudah tidak terlalu kaget dengan kehidupan mandiri, karena sebelumnya aku pernah merasakan kehidupan di pesantren yang tentunya mandiri sudah menjadi kebiasaanku selama di pesantren.
Ada beberapa perubahan yang aku rasakan selama aku merantau di Jakarta. Bertemu dengan banyak orang yang berasal dari berbagai suku, agama, dan daerah membuatku semakin open minded dan toleransi. Selama SD sampai SMA aku belum pernah merasakan satu kelas dengan siswa yang beragama non islam, kini aku harus berteman dan akrab dengan teman-teman lintas agama. Tentunya hal itu menjadi pengalaman baru sekaligus kebahagiaan tersendiri bagiku.
Untuk gaya hidup sendiri masih terbilang sederhana, karena aku masih menyesuaikan dengan kemampuan finansial orang tua yang hanya petani serabutan. Jadi untuk gaya hidup aku masih dalam kategori aman dalam artian tidak hedon atau berlebih-lebihan. Salah satu perubahan yang aku dapatkan yaitu aku menjadi berani eksplor ataupun jalan-jalan sendirian, dimana sebelumnya aku jarang sekali pergi jalan-jalan saat di kampung. Bahkan jika sangat gabut, aku sempatkan pergi keluar walau hanya naik dan tidur di Bus TransJakarta kemudian turun dan balik lagi ke kost.
Walaupun aku anak yang ekstrovert, adaptasiku di Jakarta terbilang cukup lama. Jujur pada semester awal aku kuliah di Polstat STIS aku masih saja homesick. Hal ini sampai berpengaruh ke nilai IPku di semester satu. Alhamdulillahnya banyak dukungan dan semangat dari teman-temanku dan orang tuaku yang membuatku harus bangkit lagi demi lulus di kampus tercinta ini. Sehingga selama kurang dari 2 tahun di Jakarta, pulang kampung menjadi nampak biasa-biasa saja, bahkan saat di rumah malah pengin cepat-cepat balik ke Jakarta lagi. Secara tidak langsung, seiring berjalannya waktu aku menjadi lebih suka dengan kehidupan di luar rumah. Hal ini jelas membuatku merasa keluar dari zona nyaman.
Sebenarnya kehidupan di Jakarta tidak terlalu signifikan dalam mengubah hidupku, misalnya gaya bicara, aku sendiri tidak terpancing menggunakan kata-kata anak jakarta, seperti lo dan gua. Disini aku masih menggunakan bahasa indonesia yang formal walau sedang berbicara sama anak Jakarta sekalipun. Bahkan aku masih menggunakan bahasa daerah ketika berbicara dengan orang-orang sedaerahku yang sama-sama merantau di Jakarta.
Demikian saja gambaran dampak Jakarta dalam mengubah hidupku. Mungkin ada perubahan yang tidak aku sadari selama ini, yang mungkin justru orang-orang di sekitarku yang menyadarinya. Next di penempatan seperti apa dampaknya dalam mengubah hidupku? Kita lihat saja nanti.
Komentar
Posting Komentar